Investasi Emas

Mengapa Emas Makin Populer di Indonesia 2025

admin
15 September 2025
4 menit baca
Bagikan:

Saya masih ingat jelas, di awal 2024, ketika salah satu peserta pelatihan saya — seorang manajer keuangan — mengatakan, “Pak Rudy, saya tidak pernah beli emas sebelumnya. Tapi sekarang, rasanya seperti wajib.”

Faktanya, permintaan emas di Indonesia melonjak tajam sejak pertengahan 2023 hingga 2025, bukan hanya dari ibu rumah tangga atau pengusaha, tetapi juga dari kalangan profesional, ASN, bahkan generasi muda. Lalu, apa sebenarnya yang membuat emas kembali bersinar di tengah era digital dan volatilitas global? Mari kita gali bersama.

Faktor-faktor Dominan yang Mempengaruhi Harga Emas (2024–2025)

Sebelum menjawab mengapa emas makin populer, kita harus memahami dulu apa yang mendorong naik-turunnya harga emas saat ini. Pertama, ketidakpastian geopolitik global seperti perang di Ukraina, konflik Timur Tengah, dan ketegangan dagang AS–Tiongkok menjadikan emas sebagai pelabuhan aman (safe haven). Kedua, tingginya inflasi dan suku bunga membuat banyak investor menghindari instrumen berisiko dan mencari lindung nilai. Ketiga, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga mendorong masyarakat mengamankan nilai aset mereka. Dan terakhir, banyak orang mulai kembali ke emas setelah kehilangan kepercayaan pada aset digital pasca volatilitas kripto dan saham teknologi.

Stabil di Tengah Dunia Tak Menentu

Tahun 2024, saat konflik Palestina–Israel kembali membara dan harga minyak dunia melonjak, banyak orang mulai resah. Saham bergejolak, nilai tukar berfluktuasi, bahkan properti tak lagi likuid. Seorang pengusaha di Bandung yang saya temui dalam seminar akhir tahun lalu mengaku tidak tahu lagi harus menyimpan dananya di mana.


Ia kemudian memutuskan untuk menyisihkan sebagian asetnya ke dalam bentuk emas batangan. Setiap bulan, ia membeli 10 gram emas. Selama enam bulan, nilainya naik 14%, sementara portofolio sahamnya justru merosot 8%. Investasi emas yang ia anggap kuno, justru menjadi pelindung aset terbaiknya.

Ketika Uang Diam di Bank, Nilainya Turun

Di awal 2025, inflasi bahan pokok merangkak naik. Tabungan sebesar Rp100 juta yang disimpan di rekening biasa, jika didiamkan, kehilangan daya beli hingga Rp8 juta dalam setahun. Seorang pensiunan guru di Yogyakarta yang terbiasa menabung di bank mulai merasakan tekanan ini.


Ia mulai membeli emas digital sedikit demi sedikit dari dana pensiunnya. Setelah setahun, nilai emasnya naik hampir 9%. Sementara uang di rekeningnya tak mengalami kenaikan apa-apa. Ia tersadar, menyimpan uang saja tidak cukup—perlu instrumen yang bisa menjaga nilai jangka panjang.

Generasi Muda Butuh Aset Nyata dan Aman

Generasi Z semakin sadar akan pentingnya investasi. Namun, banyak yang masih bingung memilih instrumen yang cocok. Dengan dunia kripto yang tidak stabil dan saham yang membingungkan, banyak dari mereka mencari alternatif yang aman dan sederhana. Aurel, seorang mahasiswi 23 tahun yang mengikuti kelas daring saya, bercerita bahwa ia ingin investasi tapi takut salah langkah.


Saya menyarankan ia mulai menabung emas digital, bahkan jika hanya Rp20.000 per hari. Delapan bulan kemudian, ia sudah mengumpulkan 4 gram emas. Dengan wajah bangga, ia menunjukkan grafik pertumbuhannya. Emas memberinya rasa percaya diri bahwa ia sedang membangun masa depan dengan langkah pasti.

Warisan Emas Lebih Praktis daripada Properti

Banyak keluarga Indonesia menyimpan kekayaan dalam bentuk tanah atau rumah. Namun ketika ada kebutuhan mendesak, properti tidak mudah dicairkan. Keluarga Pak Husen di Surabaya belajar ini saat ayah mereka wafat dan butuh dana cepat untuk rumah sakit. Mereka sulit menjual properti dalam waktu singkat.


Mulai tahun 2024, Pak Husen memutuskan mengalihkan sebagian aset keluarga ke emas fisik. Dan saat adiknya kuliah di luar negeri, tabungan emas itulah yang membiayai biaya masuk dan hidup bulan pertama. Tanpa perlu menjual tanah, tanpa pinjaman, tanpa stres.

Data Pendukung: Konsumsi Emas Meningkat

Berdasarkan data World Gold Council 2024:

- Konsumsi emas di Asia Tenggara meningkat 12% dibanding tahun sebelumnya

- Indonesia masuk 5 besar negara pembeli emas ritel terbanyak

- Transaksi emas digital tumbuh 28% sepanjang 2024


Data ini menunjukkan bahwa tren kenaikan minat terhadap emas bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan transformasi cara masyarakat Indonesia melihat dan melindungi kekayaan mereka.

Penutup

Di tengah dunia yang makin tak pasti, emas hadir bukan hanya sebagai benda berkilau, tapi sebagai penjaga nilai dan harapan. Bukan karena orang Indonesia sedang ikut tren, tapi karena mereka mulai paham: emas itu stabil, nyata, dan netral terhadap krisis.


Entah Anda investor besar, pensiunan, atau mahasiswa—emas adalah cara cerdas menjaga masa depan.


Ingin Belajar Lebih Dalam?

Unduh e-book gratis *Goldvisor Handbook*

Konsultasi langsung dengan saya via WhatsApp untuk menentukan strategi emas pribadi Anda.

a

admin

Penulis Artikel

Dipublikasikan pada

15 September 2025

Artikel Terkait

Baca artikel lainnya yang mungkin menarik untuk Anda

Investasi Emas

7 Tanda Emas Palsu yang Harus Diketahui

Pada tahun 2023, otoritas bea cukai Jerman menggagalkan pengiriman emas batangan palsu seberat 1,2 ton dari jaringan internasional. Sementara itu, di Tiongkok, lebih dari 83 ton emas palsu digunakan sebagai jaminan pinjaman oleh perusahaan besar yang kemudian terbukti tidak mengandung logam mulia sama sekali.

admin 15 Sep 2025
Baca Selengkapnya